
Kesenian “ampa wayer” lahir pada masa perang dunia ke II di pulau Siau, dimasa akhir pendudukan Jepang antara tahun 1944-1945. Kesenian ini merupakan perpaduan kesenian Eropa dengan kesenian “Sangihe” seperti mĕ-salai dan mengorkesê. Tarian ini sudah berkembang sejak masa masuknya Spanyol di kepulauan Sangihe dan menemukan identitas menjelang berakhirnya perang dunia ke II di kepulauan Siau.
Secara Etimologi kata ampa wayer terbentuk dari dua kata yaitu , “ampa” (bahasa Malayu Manado) yang berarti “empat”, dan kata “wayer” (bahasa Malayu Manado) yang berarti baling-baling. Pemberian nama ampa wayer muncul bersamaan dengan aktifitas serangan pesawaat udara tentara Sekutu melawan tentara Jepang.
Ampa wayer sering dipentaskan pada acara-acara besar atau pesta sebagai simbol persatuan dan persaudaraan.