
Di Minahasa, ada kain tenun Pinawetengan yang dibuat untuk menjaga kelestarian guratan pada sebuah batu, yaitu Watu Pinawetengan. Guratan atau gambar-gambar di Watu Pinawetengan itu ditemukan pada tahun 1888 dan mengandung nilai-nilai luhur.
Ada berbamacam-macam motif di kain tenun pinawetengan. Beberapa di antaranya adalah motif Karema, Lumi’muut, Lingkanwene, dan Toar. Terdapat beberapa tahap pembuatan tenun ini. Tahap pertama adalah pengkloasan benang, pembidangan, dan pembuatan pola. Pola dibuat dengan cara diikat menggunakan tali rafia. Benang yang sudah berpola kemudian masuk tahap pewarnaan dengan cara pengginciran dan pemaletan benang. Benang yang sudah diwarnai kemudian diatur dalam alat tenun dan menjadi kain tenun Pinawetengan. Untuk menghasilkan benang yang berpola, para pengrajin bisa menghabiskan waktu selama 3-4 minggu. Dari benang yang siap tenun, para pengrajin bisa menghasilkan satu meter kain per hari.