WATU Pinabetengan adalah sebuah situs batu megalitikum berukuran besar berbentuk unik dengan tulisan dan torehan yang sampai sekarang masih belum bisa diurai maknanya. Situs Watu Pinabetengan ini disimpan di dalam sebuah cungkup di lereng Gunung Soputan, Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Lokasi ini bisa didatangi dari Manado – Tomohon dengan waktu sekitar 50 menit.

Cungkup putih tempat Watu Pinabetengan berada berbentuk tutup waruga yang disangga 9 tiang bercat merah, dengan patung burung Manguni di kedua puncaknya. Pada dinding bangunan cungkup waruga ada semacam poster menempel yang menceritakan kisah seputar batu bersejarah Watu Pinabetengan.

Pada bagian atas permukaan Watu Pinabetengan terdapat goresan-goresan, yang diantaranya berbentuk tubuh manusia, alat kelamin, dan goresan lain yang artinya masih belum bisa diungkap para ahli purbakala.

Watu Pinabetengan pada hakekatnya adalah batu tumotowa, yakni batu besar khusus yang dijadikan mezbah (altar) ritual, sekaligus penanda berdirinya pemukiman suatu komunitas.

Saat ditemukan, konon di atas batu besar ini bertengger burung Manguni, sementara batu-batu lain di sekitarnya ditunggui oleh ular hitam. Batu besar ini lalu dinyatakan sebagai tumotowa wangko (mezbah atau altar agung).

Selama berabad-abad lamanya Watu Pinawetengan ini sempat hilang ditelan bumi.

Penggalian Watu Pinawetengan dilakukan tahun 1888, sesuai hasil analisa J.A.T. Schwartz dan J.G.F. Riedel (masing-masing adalah putra Pdt. J.G. Schwartz dan Pdt. J.F. Riedel – dua misionaris yang berperan penting menginjil Minahasa), berdasarkan petunjuk sejumlah tuturan dan sastra lisan yang diwarisi dari orang-orang tua.

Watu Pinawetengan bisa saja hanya berbentuk sebuah batu besar yang tidak bernyawa dan masih menyimpan misteri, namun makna keberadaannya tampaknya sangat dalam karena dari sinilah bermula akar budaya Minahasa yang demokratis, serta konsep persatuan yang mendasari hubungan antar suku di Minahasa, yang diperkuat dengan keyakinan bahwa “Torang samua basudara”.